Loyalitas Guru Kepada Kepala Sekolah/Madrasah Baru

Dalam satuan pendidikan mana pun, idealnya setelah pimpinan lama digantikan oleh yang baru, interaksi di antara para guru, atau antara guru dengan kepala sekolah/madrasah yang baru bisa berjalan dengan semakin baik. Lebih sempurna lagi bila mereka saling terikat dan menyatu dalam karakter positif, yaitu karakter yang terbentuk dari internalisasi dan implementasi nilai-nilai komitmen terhadap kebersamaan dan loyalitas. Tentunya ini terjadi setelah masing-masing mampu menyadari, bahwa kesalahan-kesalahan dapat saja dilakukan baik oleh guru maupun kepala sekolah/madrasah sebelumnya di masa lalu.

Namun, komitmen terhadap kebersamaan dan loyalitas guru itu baru bisa terwujud setelah kepala sekolah/madrasah yang baru bersedia memberikan dukungan dan dorongan demi perbaikan dan peningkatan kinerja mereka, yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan. Ini harus dilaksanakan secara berkeadilan. Dan kepala sekolah/madrasah yang baru harus memberikan kepercayaan sekaligus tantangan kepada guru-guru agar  menunjukkan kemampuannya untuk mencobakan gagasan-gagasan pembaharuan atau inovasi. Untuk itu, guru-guru sebagai bawahan membutuhkan motivasi kuat dari kepala sekolah/madrasah yang baru, agar mereka tidak takut gagal atau tidak dicemooh kalau gagal.

Berhasil atau tidak berhasil dalam melaksanakan program, kepada mereka seharusnya diberikan reward untuk yang telah bekerja keras, sehingga kepala sekolah/madrasah yang baru dapat membedakan siapa guru yang bersungguh-sungguh dan siapa yang tidak, siapa yang berhasil membuat inovasi dan siapa yang tidak. Reward pun tidak mesti diwujudkan dalam bentuk uang.

Hanya saja perlu diingat, bahwa upaya seperti ini sering mengalami resistensi dari mereka yang memunculkan sikap kurang puas atas pergantian kepala sekolah/madrasah tersebut. Dan sekolah/madrasah akan mengalami masa-masa yang paling gawat selama berlangsung masa transisi, di mana sangat mungkin karakter positif sebagai pengikat kebersamaan dan loyalitas jadi terkontaminasi oleh nilai-nilai negatif. Ini wajar, karena perubahan bisa mengakibatkan rasa tidak pasti dan kurang nyaman bagi mereka yang tidak lagi memegang kendali kebijakan, alias di-lengser-kan dari jabatan.

Sebab, ketika terjadi perubahan kepala sekolah/madrasah, selalu ada kelompok guru yang merasa sebagai pemenang. Yaitu, mereka yang diuntungkan oleh datangnya perubahan itu, sehingga nasibnya menjadi lebih baik, karena mengalami kenaikan jabatan, atau karena mereka bisa lebih dekat kepada atasan, atau pemegang kekuasaan, atau pembuat keputusan. Di sisi lain, ada kelompok guru yang merasa kalah, yaitu mereka yang dikurangi hak-haknya, penghasilannya menurun seiring dengan hilangnya tunjangan jabatan, dan dijauhkan dari para pengambil keputusan, atau pengendali kebijakan.

Oleh karena itu, semua pihak harus benar-benar menyadari, bahwa penyebab ketidak-lancaran untuk membuat kestabilan sekolah/madrasah ini terkendala oleh sikap guru-guru yang memanfaatkan situasi secara serakah, orang-orang yang lebih mengedepankan kepentingan pribadinya, dan akan berupaya mengamankan kepentingan-kepentingan yang melekat pada dirinya, seperti posisi, jabatan, karier, fasilitas, dan sebagainya. Jika yang demikian dibiarkan, maka keadaan sekolah/madrasah menjadi tidak kondusif lagi. Lebih-lebih bila yang melakukan justeru para guru yang dekat dengan kepala sekolah/madrasah tersebut.

Para bawahan, yang terdiri atas guru-guru lainnya dan karyawan, secara otomatis akan kehilangan kepercayaan dan rasa hormatnya atas tindakan pimpinan yang mengedepankan urusan-urusannya sendiri dan kelompoknya. Memang, ia bisa saja berkilah, bahwa semuanya dilakukan atas alasan otoritas. Tapi, tanpa kepercayaan bawahan, otoritas tidak lagi memberikan makna positif. Dan inilah tanda-tanda awal rusaknya perekat komitmen terhadap kebersamaan dan loyalitas yang membuat kondisi masa transisi di sekolah/madrasah berjalan tidak normal, serta tidak jarang mesti melewati dahulu suatu siklus panjang untuk bisa pulih kembali, sampai akhirnya semua pihak harus legowo menerima dan mengakui hadirnya perubahan di sekolah/madrasah tersebut.   

Di sisi lain, ada lagi ancaman terhadap kestabilan masa transisi kepemimpinan kepala sekolah/madrasah baru, yaitu ketika perubahan menyebabkan seseorang dipromosikan tidak mengikuti jalur karier tradisional, melainkan secara tiba-tiba melejit ke puncak. Mereka yang tadinya dianggap tidak cakap dan kurang berpengalaman, atau dianggap lebih yunior, tiba-tiba bisa menjadi atasan para seniornya. Tindakan melibas senioritas ini akan lebih menyakitkan lagi bagi mereka, jika terjadi seiring dengan masuknya guru-guru baru yang langsung menduduki posisi puncak. Akibatnya, antara guru senior dengan kepala sekolah/madrasah pasti terjadi ketak-sepahaman, sebab pola hubungan atasan-bawahan menjadi sedikit kacau. Timbul perasaan tidak senang mereka sebagai para bawahan, bahkan dari rekan-rekannya sejawat. Mereka akan mengungkapkannya dalam berbagai bentuk, sebagai pertanda bahwa mereka kurang menyukai situasi sekarang. Mereka merasa segala sesuatu yang sudah biasa di masa lalu tiba-tiba menjadi gelap, tidak jelas lagi, sehingga perlu waktu banyak untuk menormalkan kembali.

Ketak-sepahaman tersebut jelas akan merugikan kinerja kepemimpinan kepala sekolah/madrasah baru. Lebih-lebih lagi bila berlanjut, tidak saja terhadap nilai-nilai dan karakter sekolah/madrasah tersebut, tetapi juga terhadap perilaku warganya yang dibentuk oleh sejarah sepanjang usia sekolah/madrasah itu sendiri. Oleh karena itu, kepala sekolah/madrasah baru seyogianya tetap menghargai sejarah. Sejarah masa lalu dari sekolah/madrasah itu tidak dapat dihapus begitu saja, seperti menghapus jejak di pasir pantai. Mestinya, inilah yang menjadi pertimbangan bagi para kepala sekolah/madrasah baru dalam mengambil langkah kebijakan yang menyangkut promosi karier seseorang. Jika menginginkan komitmen guru terhadap kebersamaan dan loyalitasnya, maka seharusnya sejarah masa lalu juga diakui sebagai salah satu sumber kekuatan perekat, sehingga guru-guru, para karyawan, dan siapa pun warga sekolah/madrasah, tidak ada yang terabaikan, atau tidak jelas di mana berada, dan ke mana mereka akan dibawa dalam kapal harapan yang dinahkodai kepala sekolah/madrasah baru. Jadi, jangan hanya pandai mengancam mereka agar tidak melubangi tempat duduknya di kapal itu.

Tinggalkan komentar

Filed under artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s