Tag Archives: renungan

Renung 03

Sebenarnya boleh juga dikatakan melekat, karena setelah ditempelkan ke dinding dia kan jadinya lengket, melekat nggak bisa kemana-mana lagi. Apa sih? Itu, alat yang dipasang oleh PLN.
Alat itu dipasang karena kita ber-MOU untuk selalu membeli listriknya, berapapun dia pasang harga. Dalam keadaan nyala terus sepanjang tahun atawa mati-mati keseringan, sama saja, pokoknya harus tetap bayar. Terlambat membayar diharamkan? Ancamannya disumpal arusnya, sehingga tak mengalir ke rumah kita.

Tapi kalau keseringan dipadamkan, sebagai pelanggan kita harus nurut, mau komplain boleh tapi tetap saja tak secepat kemauan kita untuk dinormalkan.

Demikianlah, mereka mengawasi tingkah-laku kita memakai (atau membeli, sih) listriknya melalui alat yang dilekatkan, ditempelkan ketat ke dinding rumah seperti foto ini. Jadul memang, belum yang prabayar, biar saja, ada masanya nanti.

Tinggalkan komentar

Filed under guru dan calon guru

Renung 02

Kalau keterbukaan informasi menjadi keniscayaan, maka dia akan berdampak memicu penyelenggaraan manajemen yang baik. Karena jika informasi telanjur diinformasikan supaya tak hanya aib yang ditransparansikan oleh penyebar berita.

Untuk itu pimpinan dituntut sedikit banyak memiliki sikap pandai menyesuaikan diri, yang pasti bermanfaat ketika lembaganya ditimpa situasi tak terduga. Jika tidak, itu sama artinya dengan diberi ‘pelajaran’ pahit dan mahal oleh hidup ini, sehingga sepantasnya itu dinamai pengorbanan.

Kecuali, Anda bisa menafsirkan simbol-simbol, memaknai isyarat-isyarat, sebab kalau salah tak begitu berisiko. Padahal sebenarnya lebih bermanfaat kalau bisa menafsirkan gejala yang cenderung menguat di masyarakat dan memprediksinya sebagai bagian dari strategi ke depan.

Lalu saya memahaminya demikian: Tidak setiap anak bisa menjadi bintang dalam sebuah kegiatan, tapi setiap anak bisa menuai banyak manfaat dari partisipasi yang giat. Tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan yang mereka capai, pengalaman positif yang diperoleh dari keterlibatan ini memberi anak-anak kenikmatan dan kepuasan yang sangat besar dan menawarkan pelajaran yang sangat berharga yang bisa mereka gunakan di bagian lain kehidupan mereka. (Jim Taylor, Ph.D. ‘How to Raise A Succesful and Happy Children’)

Tinggalkan komentar

Filed under guru dan calon guru

Renung 01

Pasti rasanya sedikit ringan menyandang beban itu, terutama saat setelah kau mengatakan beban itu juga terasa di pundakmu. Terlebih dengan kautunjukkan lewat senyummu, maka seketika menyegarkan penatku.
Lalu berdampak pada hari ini jadi makin indah. Kauselesaikan masalah tanpa bantuanku. Dan menjadi mandiri seperti itu, sungguh menyemangati dalam mencari keseimbangan.
Dengan cara mengurangi yang berlebihan dan memberikan tambahan pada yang nampak ada kekurangan, harmoni terjadi menyantap kelezatan menghadapi ujian hidup.
Itu sekaligus mengubah sikap kikir, sehingga mana yang bisa menguasai materi jadi mau mengajarkan. Sedangkan yang belum bisa, giat belajar. Terkahirnya adalah hanya ada satu jalan jika keduanya tidak mampu dilakukan, yaitu berdoa.
Memang mengikuti langkah berat ini memang penat, seperti dikatakan di depan, tapi tak boleh ada rehat sebagai tempat semua syukur dipanjatkan.

Tinggalkan komentar

Filed under guru dan calon guru

Menjelang Imsak di 2 Ramadhan 1433 H

Baagaimana kualitas makan sahur Anda, saya tidak tahu. Namun, saya bisa memastikan tidak mungkin sesederhana makan sahur kami sekeluarga, barangkali. Sebentar, kok sepertinya ada yang salah di dua kalimat awal essai saya ini.

Di awal saya katakan tidak tahu, tapi pada kalimat berikutnya saya tulis bisa dipastikan dan saya mengakhirinya dengan kata barangkali. Kok rancu, kacau, logikanya nggak main, begitu ya?

Jelasnya, yang saya tidak tahu adalah jenis makan sahur Anda, sedang yang saya pastikan adalah kualitasnya, sebab terus terang pagi ini kami menikmati sahur dengan telur goreng dan sambal kecap sebagai teman nasinya. Sudah, itu saja.

Belajar dari ini, saya jadi meyakini benar akan kebenaran bahwa berpuasa itu semata-mata hanya untuk Allah SWT. Inilah kepastian itu, tidak boleh cuma barangkali apalagi tidak tahu.

Jadi, betapa mudahnya kita membohongi orang dengan berpura-pura puasa, karena bagaimana caranya kita dapat memastikan orang tersebut sedang berpuasa atau tidak. Tapi, bisakah kita menipu Allah SWT, ketika kalbu kita sedang diterangi bersihnya iman?

 

 

2 Komentar

Filed under artikel, catatanku, imsak, INFO, informasi, Kota Reyog, makan sahur, motivasi, opini, pembelajaran, PENDIDIKAN, ponorogo, ramadhan, renungan, Uncategorized

Dari Imsak ke Imsak, 1 Ramadhan 1432H

Apa yang saya alami, mana yang saya tandai sebagai pengalaman rohani yang pantas dibuat lestari, tak patut kalau tak dituliskan kembali. Meskipun banyak menyentuh pribadi sendiri, namun barangkali juga masih ada sesuatu yang bernilai sehingga dapat dimanfaatkan saudara-saudariku pengunjung blog ini.

Dan rasa cemas, serta takut kehilangan, juga berkewajiban mempertahankannya sampai titik darah penghabisan dari direbut orang jahat, disebabkan ada perasaan memiliki total akan apa yang dipunyai. Tapi sebenarnya bukankah itu seharusnya hanya sebagian saja sisa dari setelah apa yang wajib kita keluarkan dan belanjakan di jalan Allah?

Lalu bagaimanakah nyamannya merasa tak memiliki apa-apa karena memang semuanya hanya titipan dari Yang  Maha Kaya, sehingga akan merasa tak pernah kehilangan apa-apa, ketika merasa bahwa titipan itu kembali kepadaNya dengan berbagai jalan yang dikehendakiNya.

Tinggalkan komentar

Filed under artikel, catatanku, Kota Reyog, motivasi, opini, PENDIDIKAN, ponorogo