Tag Archives: PP48

Tak Sekedar Janji Terbukti DKI Angkat Lagi 3.335 Guru CPNS!

Wuah… DKI Angkat Lagi 3.335 Guru CPNS!

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengangkat 3.335 dari total 3.507 guru berstatus pegawai tidak tetap (PTT) menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Sementara itu, sebanyak 172 guru tidak dapat diangkat karena tidak memenuhi syarat. Yang diangkat bukan guru yang baru lulus, tetapi umumnya yang sudah bertahun-tahun mengajar dan melamar jadi CPNS.

“Sudah tiga tahun ini kami terus memproses secara administrasi guru PTT menjadi CPNS. SK (Surat Keputusan) pengangkatan mereka sebagai CPNS telah keluar,” kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto di Jakarta, Rabu (21/4/2010).

Selain penerbitan SK Gubernur, Disdik juga mengeluarkan SK penempatan mengajar mereka di sekolah-sekolah negeri milik Pemprov DKI mulai tingkat SD hingga SMA.

“Yang diangkat bukan guru yang baru lulus, tetapi umumnya guru yang sudah bertahun-tahun mengajar dan melamar jadi CPNS,” kata Taufik.

Taufik menambahkan, selama proses administrasi para guru tersebut tetap mengajar di sekolah masing-masing. Sementara itu, sebanyak 172 guru PTT tidak dapat diangkat menjadi CPNS karena usia mereka melebihi persyaratan usia pengangkatan guru PTT menjadi PNS, yakni sekitar 46 tahun. “Saya minta maaf, karena sesuai aturan mereka tidak bisa diangkat menjadi CPNS,” kata Taufik.

Namun meskipun tidak mendapatkan tunjangan kinerja daerah (TKD) dari Pemprov DKI, para guru tersebut tetap mendapatkan tunjangan peningkatan penghasilan (TPP) kesra setiap bulan. Taufik menyebut, pihaknya meminta tambahan tenaga pengajar atau guru di sekolah negeri karena jumlahnya yang masih kurang ditambah ada sejumlah sekolah baru yang sedang dibangun Dinas Pendidikan.

Selain itu, dari 2010 hingga 2015 banyak guru senior yang memasuki masa pensiun dan jika tidak segera diganti maka akan ada kekurangan guru sehingga dikhawatirkan menurunkan  kualitas pendidikan.

Masedlolur : demikian DKI, lalu bagaimana provinsi yang lain???

6 Komentar

Filed under artikel, BERITA, bhp, calon guru, catatanku, CPNS, Domnis, GURU, guru dan calon guru, guru swasta, hari guru, INFO, informasi, inpassing, inpassing guru swasta, kebijakan pemerintah, kepala sekolah, kepala sekolah/madrasah, Kota Reyog, kurikulum, kurikulum dan pendidikan, leadership kasek, lowongan pekerjaan, motivasi, opini, PAIKEM, pembelajaran, PENDIDIKAN, ponorogo, produk hukum, psg, SERTIFIKASI, yayasan

Guru dan Calon Guru vs Sertifikasi Guru 2009 Belum Mengakhiri Fenomena Marjinalisasi Guru Swasta

Birokrat Kantoran dalam dunia pendidikan menghakimi bahwa Guru Swasta tidak penting, hingga bertahun-tahun mereka dimarjinalkan, sampai sekarang. (Kalau tak percaya, cermati PP 48/2005, PP 74/2008, dan peraturan perundang-undangan yang terkait guru lainnya)  Pejabat ini tergolong manusia sombong dan menganggap Guru Non Swasta-lah yang paling berkualitas. Guru Swasta itu tidak penting, dianggap semuanya penuh dengan kekurangan, sehingga keyakinan seperti ini dipakai untuk menghakimi Guru Swasta.

Padahal kata para pakar, kalau ingin menghakimi orang lain, diri sendiri harus cerdas secara subjektif. Tapi kecerdasan subjektif terbatas, untuk itu ia harus bisa terbuka, toleran, mau mendengar kebenaran-kebenaran yang lain. Hakim yang bodoh adalah hakim yang berkaca mata kuda yang hanya melihat satu arah dan tidak mau melihat dan mendengar arah kiri, kanan, dan belakang. Sejarah membuktikan, penghakiman seperti ini telah menghukum mati ilmuwan-ilmuwan potensial seperti Socrates, Galileo, Bruno, dan ribuan lainnya.

Dunia pendidikan kita, sebenarnya dirugikan dengan dihakiminya guru-guru swasta  kompeten dan potensial di bidangnya. Mereka memang tidak dihukum mati, tapi tidak diberdayakan optimal, karena dunia pendidikan memarjinalkannya. Para penguasa dunia pendidikan, birokrat kantoran, bisa menghakimi guru swasta dengan mengatakan mereka sulit bekerja sama, integritas dan komitmennya terhadap pendidikan nasional diragukan. Tetapi mereka tidak pernah ingat, bahwa Guru Swasta tidak pernah diberi kesempatan sepadan dengan Guru Non Swasta. Ini berjalan bertahun-tahun. Coba hitung, berapa minimnya Guru Swasta yang berkesempatan dikirim ke ToT, diklat-diklat, dibandingkan Guru Non Swasta, sehingga wajar kalau mereka kalah pamor ihwal SDM.

Di sisi lain, dunia pendidikan kita seringkali tidak mau menghargai potensi Guru Swasta, padahal yang  pintar juga tidak sedikit. Tetapi kepintaran dan kehebatan mereka tidak memperoleh harga dan penghargaan yang memadai. Karena, negara dan masyarakat terbelenggu dalam struktur berpikir yang tidak menghargai apa yang bukan berasal dari pemerintah. Fenomena inilah yang terjadi dengan Guru Swasta.

Apakah sertifikasi guru 2009 akan mengakhiri fenomena ini? Tidak! Mulai saja dari jumlah peserta sertifikasi. Guru Swasta jelas di-diskriminasi. Tahun 2006 kosong, tahun 2007 dan 2008 jatah mereka maksimal hanya 25%. Inikah keadilan? Kenapa tahun 2009 ini tidak mungkin 50-50? Kalau ingin tahu jawabannya, tolong dibaca lagi dari awal.

Atau baca yang ini

24 Komentar

Filed under artikel, BERITA, catatanku, CPNS, GURU, guru swasta, hari guru, INFO, informasi, kebijakan pemerintah, leadership kasek, opini, PENDIDIKAN, SERTIFIKASI, yayasan

Guru vs Syahwat Sulih Status Dalam Tubuh Guru Swasta (Tanggapan Atas Enaknya Guru Swasta Ustadz Abuthoriq)

Saat ini kalau guru swasta bisa memilih, dan yakin pilihannya bakal dipenuhi, maka akan memilih menjadi guru PNS ketimbang mempertahankan profesinya sebagai Guru Swasta. Atau, sekalipun mereka menjadi Guru Swasta dengan penghasilan lebih besar dibandingkan dengan guru PNS, mereka tetap akan memilih menjadi PNS. Sebab, bagi guru PNS tersedia jaminan hari tua berupa dana pensiun.
Ini menunjukkan, bahwa sangat langka peluang kita menemukan yayasan yang berani menjanjikan dana pensiun bagi guru-gurunya. Malah yang sering terjadi dan masih menonjol sampai hari ini adalah kasus beberapa yayasan yang dengan semena-mena memecat guru tanpa pesangon.

Menghadapi realita itu Guru Swasta menjadi lebih proaktif memperjuangkan perbaikan dan peningkatan kesejahteraan. Dengan menyatukan visi, mereka bergabung ke dalam  organisasi Guru Swasta yang mulai tumbuh menjamur di berbagai kota/kabupaten dengan visi yang beragam, tetapi peningkatan status dan kesejahteraan intinya. Kita tahu, beberapa organisasi guru swasta malah sudah aktif ber-unjuk rasa, seperti di Tegal Jateng, Yogya, Ponorogo Jatim dll.
Mula-mula mereka gigih menginginkan semua anggotanya menjadi PNS melalui jalur data based. Perjuangan ini meledak akibat dari serangkaian kebijakan pemerintah yang sengaja melupakan keberadaan Guru Swasta. Sumber masalahnya ada pada Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) berlaku hingga tahun 2009.

Rekruitmen guru CPNS dengan seleksi tanpa tes tersebut merobek-robek perasaan berkeadilan Guru Swasta. Sebab, mereka yang merasa lebih memiliki pengalaman mengajar di sekolah atau madrasah swasta selama bertahun-tahun tidak dihargai secara proporsional oleh pemerintah. Status mereka sebagai Guru Swasta bukanlah guru seperti yang dikehendaki oleh PP 48/2005. Mereka disingkirkan dari data based karena perbedaan pejabat yang berwenang memberikan gaji di tempatnya mengajar, bukan oleh persoalan-persoalan normatif bagi seorang calon guru PNS, yaitu kualifikasi akademik dan kompetensi. Untuk itu, Guru Swasta sampai pada kesimpulan, bahwa terhadap mereka telah terjadi perlakukan secara diskriminatif.

Oleh karena itu, bersama-sesama Guru Swasta se-Jawa Timur, Jateng, dan Yogyakarta pernah melabrak sampai ke DPR RI agar pemerintah mau merevisi PP 48/2005. Gema perjuangannya pun masih terdengar keras hingga sekarang, tapi hasilnya tetap nihil.

Bagaimana pun cara kita memberikan tanggapan, kita akan percaya kepada  eksistensi Guru Swasta, asalkan mereka ke depan berkiprah di dunia pendidikan dengan paradigma baru. Dan selama mereka berupaya terus meraih kesejahteraan, martabat, dan keprofesionalan menjadi agenda perjuangan yang paling utama, mereka akan bisa meredam syahwat untuk bersulih status menjadi PNS.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan komentar

Filed under artikel, BERITA, catatanku, CPNS, GURU, guru swasta, hari guru, INFO, informasi, kebijakan pemerintah, leadership kasek, opini, PENDIDIKAN, SERTIFIKASI, yayasan

GURU SWASTA KALI

Kenyataannya pemerintah begitu perhatian dan memberikan kasih sayang berlebihan kepada guru berstatus honorer menurut PP 48/2005, sehingga guru swasta (guru non PNS di sekolah swasta) jelas-jelas diperlakukan tidak adil.

Padahal dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas berkehendak mengatur dan mengangkat nasib semua insan pendidikan yang disebut guru (saja), tidak dikaitkan statusnya, PNS atau non PNS. Mestinya seorang pejabat tinggi sebelum memberikan pernyataan atau janji kepada suatu kelompok guru, tidak mencitrakan diri sebagai birokrat yang berkedudukan terlalu tinggi sehingga kekuasaannya digunakan hanya untuk membahagiakan duaratus ribu orang saja dari sekian juta guru swasta, yang semuanya juga membutuhkan perbaikan dan peningkatan kesejahteraan.

Demikianlah yang terjadi apabila persoalan guru tidak ditangani oleh pejabat publik yang berjiwa pejuang dan selalu adil dalam upaya membahagiakan rakyatnya. Namun, sampai detik ini walau guru swasta mengadukan ketidak-adilan ini, oleh pemerintah tidak ditanggapi.

Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under artikel, CPNS, guru swasta, leadership kasek, opini, PENDIDIKAN, yayasan