CAT INGAT CAT TIDAK

~ Cat. Tahu kan? Pasti.
~ Cuma kalau menggunakannya, tidak semua mau. Sebab, coba saja lihat, kan memang tidak semua benda atau barang yang digunakan manusia harus dicat. Yang warna-warna alami justru disukai karena indahnya, sesuai makna keindahan bagi mereka itu.
~ Katakanlah sebuah tembok dicat ngejreng, pasti ada yang mengatakan, ah, norak begitu. Dan itu berlaku seterusnya. Lalu dimanakah duduknya kesepakatan selera? Yaitu ketika kita tidak saling membantah lagi. Dan bisanya cuma main mengiyakan terus. Kayaknya yang begini ini, sedang terjadi adegan satu selera yang lebih kuat sedang menindas selera lainnya yang loyo.
~ Tapi selalu ada waktu bagi benda-benda membutuhkan cat lagi. Ingat cat atau tak ingat cat bagi pemiliknya, inilah mengapa yang tadinya dipandang indah jadi memburuk. Padahal tentunya mampu membayar orang suruhan untuk mengecat sekaligus membelikan catnya. Keterlanjuran atau keteledoran atau ketakpedulian akan yang sudah mengelupas catnya bahkan berganti dengan warna karat besi, misalnya.
~ Otak manusia dan pikirannya, tentu tak seperti gambaran itu. Dia sehat selama dipakai dan dipelihara dengan baik. Perkara kemudian menjadi suka atau tak suka dengan kecemerlangan otaknya, kegemerlapan hasil pikirannya, ah ini kan urusan selera, bukan hakikatnya. Ya?

Tinggalkan komentar

Filed under artikel, catatanku, guru dan calon guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s