Menyoal Rasa Keadilan Atasan Kepada Guru Swasta

Tapi akan beranikah guru swasta mempersoalkannya kepada para atasannya ihwal mengapa keterpurukannya bukan bagian dari keterpurukan atasannya juga? Kalau ada, guru swasta ini pasti sudah dapat menduga jawaban apa yang akan diberikan.

Mula-mula para atasan itu akan menampik pendapat, bahwa nasib guru swasta pasti tidak seburuk itu, buktinya mereka yang melamar ingin menjadi guru swasta selalu ada. Demikian pula jika yang dimaksudkan keterpurukan adalah akibat guru swasta menerima penghasilan yang belum memenuhi standar kebutuhan hidup minimum, sebab ada kucuran dana tunjangan profesi pendidik dan tunjangan fungsional. Bahkan kalau terkait dengan komitmen terhadap pengabdian sebagai pendidik profesional yang mesti dipertahankan dalam kondisi dan situasi apa pun, baik di ruang-ruang kelas maupun di tempat lainnya, maka tak pantas mempersoalkan keterpurukan itu.

Atasan guru swasta paling suka membuat pernyataan, bahwa sebuah pengabdian ikhlas tidak tamak terhadap rejeki yang berusaha keras dikais-kais dari mana pun sumbernya, apalagi di dalam dunia pendidikan, wah, keterlaluan. Inilah yang senantiasa menjadi tema nasihat favorit dijadikan materi pokok dalam pola pembinaan yang akan membuat guru swasta pasti merasa serba salah ketika ada yang berani menyanggah. Dan dengan kondisi guru swasta yang tidak berdaya inilah mengapa para atasan itu mengambil jarak. Artinya, atasan merasa tidak sepenuhnya perlu menjadi bagian dari penderitaan guru swasta.

Di sisi lain, kalau ada atasan yang tidak mempedulikan guru swasta sibuk mencari penghasilan di luar statusnya sebagai pendidik profesional, kebijakannya ini tidak pernah disalahkan. Walaupun aktivitas mencari penghasilan tambahan di luar profesi ini pasti berakibat buruk bagi guru swasta, jika sampai menghilangkan kesempatannya menyempurnakan pelaksanakan tugas-tugas mendidik secara profesional.

Mestinya, prestasi guru swasta yang berupa peningkatan kualitas sebagai pendidik profesional secara ideal harus terkait langsung dengan bertambahnya penghasilan, kenaikan jenjang jabatan, dan kepangkatan. Namun realita di lapangan, peningkatan kualitas dan perkembangan karir tersebut sering tidak relevan. Padahal ada beberapa asumsi yang dapat digunakan oleh para atasan untuk mempertimbangkannya. Asumsi-asumsi itu ialah: makin lama masa kerja yang dimiliki oleh seorang guru swasta, ia harus makin profesional. Sebab, ia yang lebih banyak menjalani pelatihan profesi. Tetapi, jika hal ini tidak menjadi kenyataan, berarti atasan telah menjalankan suatu proses manajemen yang tidak efektif.

Oleh karena itu, tidak adil jika hanya pengabdian satu-satunya komitmen yang harus dipegang teguh oleh guru swasta, meskipun dalam kondisi terpuruk, sedangkan atasan telah merasa menjadi bagian dari situasi itu dengan cukup membekali banyak nasihat ihwal keikhlasan. Tapi guru swasta pasti tahu, bahwa banyak pakar pendidikan yang memegang kuat pendapat tentang korelasi signifikan antara nasib guru swasta yang terabaikan dengan rendahnya kualitas mereka sebagai pendidik profesional.

 

1 Komentar

Filed under guru dan calon guru

One response to “Menyoal Rasa Keadilan Atasan Kepada Guru Swasta

  1. nonami

    Betul Gan… Emang itu merupakan “Makanan sehari-hari” bagi guru swasta…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s