Yang Dipajang (Seharusnya) Nikmat Dipandang, di Pojok-pojok Ponorogo

Bila berkesempatan, ada baiknya Anda mencoba berkeliling Ponorogo. Kali ini Anda jangan hanya bermaksud berwisata kuliner menyantap sate ayam dan minum dawet. Tetapi cobalah juga menikmati buah karya para seniman patung, yang ciptaannya terpajang di tengah-tengah perempatan atau pertigaan jalan-jalan protokol kota Ponorogo.

Inilah patung yang akan menyambut kedatangan Anda dari arah kota Madiun.

Untuk bisa leluasa menikmati keindahan patung ini, Anda mesti turun dari kendaraan dan mendongakkan kepala. Ia dipajang di tengah perempatan, yang namanya sangat dikenal oleh mereka yang pernah berdomisili di Ponorogo, yaitu Perempatan Pabrik Es.

Apabila Anda memasuki kota Ponorogo dari arah Wonogiri, di Perempatan Tambakbayan, terpajang sebuah patung seperti di bawah ini.

Patung ini sebagai sebuah karya seni, meskipun dapat dinikmati, tetapi harus dengan banyak bersabar.

Di tengah kota, di Pertigaan Ngepos, Anda akan melihat patung ini.

Pertigaan Ngepos ini pasti sangat dikenal, karena menjadi ikon sate ayam Ponorogo, bukan karena patungnya.


Di Bunderan, sebuah perempatan yang mempertemukan empat jalur jalan, yaitu Ahmad Dahlan – Sultan Agung – Tangkuban Perahu – Batoro Katong, patungnya seperti ini.


Tidak jauh dari patung ini, bertebaran berbagai sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA, bahkan perguruan tinggi. Namun, apakah para siswa atau mahasiswa, yang setiap hari melewatinya dapat mengapresiasi keindahan patung ini?


Di ujung lainnya dari jalan Sultan Agung, di perempatan Tonatan, terpajang patung ini menghadap pendatang berkendaraan dari arah Pulung.

Dan di bawah inilah patung di perempatan Jeruk Sing yang sudah pernah diunggah.
Berdasarkan pemantauan saya, susah sekali bagi pendatang yang ingin mengapresiasi hiasan patung-patung bertemakan tokoh-tokoh dalam seni reyog yang dipajang di perempatan atau pertigaan jalan-jalan protokol itu. Mereka mesti mendongakkan kepala, dan berhenti dari kendaraan.
Kalau ke depan, patung-patung tersebut  masih dinyatakan layak dipajang, janganlah mereka diperlakukan sebagai sebuah tugu. Potong saja landasan patung-patung itu, sehingga badan patung dapat langsung dilihat dari jendela mobil atau pembonceng sepeda motor, nggak perlu mendongakkan kepala.

Ampun pemerintah kabupaten, kalian mesti bertanya-tanya, kenapa tidak ada gambar patung di perempatan Pasar Legi?

6 Komentar

Filed under artikel, BERITA, catatanku, INFO, informasi, kebijakan pemerintah, kepala sekolah, Kota Reyog, motivasi, opini, pembelajaran, PENDIDIKAN, ponorogo, wisata Ponorogo

6 responses to “Yang Dipajang (Seharusnya) Nikmat Dipandang, di Pojok-pojok Ponorogo

  1. 9 tahun bukan waktu singkat untuk tinggal di suatu kota yang bukan tanah kelahiran kita. Namun itulah yang saya alami di Ponorogo. Kota tempat saya menuntut ilmu sekaligus napak tilas keberadaan mbah buyut dan beberapa keluarga mindoan saya.

    Patung-patung yang terpampang dalam blog ini tentu saja tidaklah asing bagi saya. Namun saya tidak akan mengomentari hal tersebut, karena tingkat pemahaman saya tentang budaya lokal relatif kurang. Saya akan mengulas sedikit tentang tempat-tempat kuliner yang pernah saya coba bahkan menjadi langganan saya.

    Sate Bu Sono memang yang paling yummy, disamping dawet Jabung tentunya. Namun, dikarenakan saku cekak dan kiriman selalu terlambat, saya jarang menikmati sate ini kecuali kalau ada sisa-sisa jamuan kehadiran menteri atau para pejabat lainnya.

    Sebagai andalan tempat nongkrong malam hari adalah nasi pecel di emperan ruko, kiri jalan ketika keluar dari daerah alun-alun menuju Dengok (Saya lupa nama daerahnya). Nasi pecel dengan lauk empal atau ayam minumnya es beras kencur mmmm…. uenak!. Namun, ketika kantong agak tebal biasanya hang out di Warung tenda Seafood di perempatan Jeruksing. 🙂

    Siang hari, beberapa tempat pernah saya coba, mulai dari kelas rumah makan sampai kelas warung pinggir sawah. Nasi goreng Mak Sih, Nasi goreng Abadi, Pecel Pojok (samping TB. La-Tansa), Marwa, dan warung BMW (Bar Mangan Wareg) di daerah Tonatan. Namun yang menjadi tempat favorit di masa akhir saya di Ponorogo adalah Depot Rini Abadi. Disamping jauh dari “pusat peradaban” juga banyak anak-anak SMA nongkrong di sana hehehehe

    Ponorogo… I miss U!

  2. WINDA

    wah2 jd bngga q tnggal di ponorogo!!!!!!!!!!!!!heheheheeh

    klo aku sich suka nongkrong di dpan bioskop alun2 ponorogo sambil mnikmati jagung bakar n pentol goreng!!!!!!!!!!pa agy low agy mkan sate pak sidik!!!!!!!huuuuuuuummmmmmmmmmm nyumy dech1!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  3. Sayangnya Bapak nggak kasih nama patung-patung tersebut. Saya algi butuh nama-nama tokoh yang ada di patung patugn tersebut soalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s