Guru dan Calon Guru vs Guru Yang Tak Perlu Didikte

Di era SSN dan rSBI, seluruh potensi yang berupa kemandirian, inovasi, dan inisiatif para kepala sekolah/madrasah harus terwujud. Ini demi mengatasi berbagai permasalahan dalam menggerakkan perubahan, tak terkecuali terhadap guru. Beruntung bagi kepala sekolah/madrasah yang guru-gurunya telah memiliki sikap, skill, dan komitmen tinggi terhadap perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Guru-guru seperti itu, tanpa didikte akan senantiasa terobsesi dengan profil lulusan unggul seperti yang sekolah harapkan. Mereka tahu landasan operasional pengelolaan, serta bagaimana mengaitkan tujuan sekolah pada tujuan pendidikan nasional. Mereka juga melakukan revisi target kinerja sekolah dengan membandingkan dengan target sekolah rujukan yang bertaraf internasional. Melakukan analisis profil sekolah, menyajikannya dalam gambaran kondisi sekolah, kemudian menentukan kegiatan prioritas.

Kepala sekolah/madrasah yang visioner tentu akan terus berupaya menjaga kemerdekaan guru-guru itu dari memenuhi rutinitas birokrasi yang bisa membelenggu kreativitas. Namun, sikap seterbuka dan sedemokratis ini tentu sangat jarang dijumpai. Seringkali guru-guru malah dibuat tersengal-sengal kehabisan napas mengejar irama permainan regulasi Pemerintah atau pihak Yayasan.

Untuk itu, kepada guru-guru setidak-tidaknya diberikan bekal kemampuan dan keberanian membebaskan diri. Artinya, diberi kemerdekaan agar tidak terus-menerus didikte. Dijauhkan pula dari pendekatan birokratis. Yaitu, pendekatan yang selalu menempatkan guru semata-mata hanya sebagai bawahan yang hanya pantas diperintah atau disuruh oleh kepala sekolah/madrasah. Ini tentu berlawanan dengan prinsip co-learners yang menghendaki atasan dan bawahan adalah pasangan mitra belajar.

Pertanyaannya adalah apakah Pemerintah atau pihak Yayasan mau menerima kemerdekaan guru? Sebab, jika hal di atas direalisasikan, maka Pemerintah atau pihak Yayasan jadi bertukar peran dengan guru dalam setiap upaya peningkatan sumber daya. Yaitu, dari menjadi manajer sekaligus pelaksana proyek berubah menjadi sekedar peran fasilitator, misalnya dalam bimtek.

Tinggalkan komentar

Filed under artikel, BERITA, calon guru, catatanku, CPNS, GURU, guru dan calon guru, guru swasta, hari guru, INFO, informasi, kebijakan pemerintah, kepala sekolah, kepala sekolah/madrasah, kurikulum, kurikulum dan pendidikan, leadership kasek, motivasi, opini, pembelajaran, PENDIDIKAN, ponorogo, produk hukum, yayasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s