Kesalahan-kesalahan Kepala Sekolah

Ketika diungkapkan adanya tujuh kesalahan guru ternyata dapat terungkap pula adanya tujuh kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Yaitu kesalahannya dalam menjalankan tugas memerankan dirinya sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator (emaslim).

Kegagalannya menjadi emaslim inilah yang memacetkan school based management (Umaedi, 1999) Patut disyukuri kalau peristiwanya tidak sampai menyebabkan krisis, sehingga menggawatkan posisi sahnya sebagai seorang kepala sekolah. Siapapun akan mengakui, bahwa menjalankan ketujuh tugas sebagai emaslim tersebut di atas tentu tidak semudah mengatakannya.

Tetapi, siapapun orangnya, sebagai warga sekolah pasti mengharapkan hal yang paling baik dari hasil kepemimpinan seorang kepala sekolah. Sebab, menurut Indrajati Sidi (2004), sesulit dan sepesimis apapun, semua pihak harus terus mendorong dan mendukung dunia pendidikan ke arah kemajuan. Dan menurut Malik Fajar (2004), pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari keperluan manusia, menjadi cermin peradaban bangsa, maka dalam situasi yang bagaimanapun pendidikan harus terus berjalan, demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas mengantarkan generasi baru, generasi yang cerdas dan berbudi pekerti luhur.

Untuk itu, menjadi seorang kepala sekolah harus siap dituntut mampu memenuhi fungsi kepemimpinannya. Ia harus berupaya keras terhindar dari kesalahan-kesalahan yang merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun guru, siswa, tenaga kependidikan, dan semua stakeholders.

Implikasinya, jika para guru mendapat tuduhan sering melakukan tujuh kesalahan, maka mereka akan berbalik mengkritisi pelaksanaan ketujuh tugas seorang kepala sekolahnya. Dan ujung-ujungnya guru-guru akan ganti menuduh, bahwa seorang kepala sekolah juga tidak jarang melakukan tujuh kesalahan dalam menjalankan tugasnya.
Ke depan perlu dikembangkan suatu kecenderungan untuk mudah memaklumi kesalahan atau kekurangan orang lain, baik di pihak bawahan atau atasan. Pihak kepala sekolah seyogianya berusaha menjaga diri agar tidak gampang memarahi bawahannya, sebaliknya pihak bawahan juga harus berusaha memahami kesalahannya. Kata Aristoteles: Setiap orang bisa marah. Itu mudah! Tetapi marah pada orang yang tepat, pada saat yang tepat, dengan alasan yang benar dan tingkat kemarahan yang pas, tidak mudah.

Oleh karena itu, kedua pihak harus saling mempercayai, bahwa pada setiap proses manajerial dan memimpin akan selalu ada kesalahan, tetapi juga ada solusinya. Begitu pula, ketika bawahan menjalankan perintah atau tugas atasannya, pasti tidak akan luput dari kekurangan, namun juga pasti dapat diperbaiki atau disempurnakan. Jadi, tujuh kesalahan guru tidak perlu digunakan sebagai senjata untuk alasan membina guru, sebaliknya guru akan toleran atas kekurangan kepala sekolah dalam memerankan emaslim.

Dengan demikian, fokus kinerja kepala sekolah pada solusi mesti diupayakan berkelanjutan. Perlu dinamika untuk terus menggali nilai-nilai positif agar membudaya di sekolah. Seperti  kebiasaan saling memuji, mencari keunggulan-keunggulan, bijak, refleksi diri, dan berorientasi ke depan. Diharapkan nantinya dengan banyak memberikan motivasi, bertindak atas umpan balik positif, dan mengutamakan reward ketimbang hukuman, akan bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari kinerja seorang kepala sekolah.

6 Komentar

Filed under artikel, guru swasta, kebijakan pemerintah, leadership kasek, opini, PENDIDIKAN, yayasan

6 responses to “Kesalahan-kesalahan Kepala Sekolah

  1. guru untuk masa depan bangsa
    masedlolur:
    atasan guru untuk masa depan siapa?
    terimakasih kunjungannya!

  2. wagiman

    baguzzzzz…..
    Akhirnya dengan mengetahui kesalahan atau kekurangan dari guru atau kepala sekolah. kita semua sebagai pendidik dan pencetak generasi yang bermutu harus saling menghormati dan tepo sliro.

    prek
    masedlolur
    echo,
    div
    prek….
    =======
    masedlolur:
    terimakasih kunjungannya!
    guru sudah lama dikritisi oleh atasan guru, pasrah
    sekarang, waktunya kepala sekolah pasrah dikritisi guru

  3. wyd

    saya pernah bekerja dengan kepsek bergaya boss, bukan leader. sekolah jadi mirip perusahaan pribadi 😦

  4. Noerseto

    Guru sejak dulu memang jadi sasaran tumpahan amarah dari atasan bila terjadi ketidakberesan dalam pelaksanaan di lapangan, sejak dulu. Hukum alam kali!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s