Arsip Tag: kepala sekolah

Yang Lalu Biarlah Berlalu

Suatu saat saya memasuki ruangan kantor kepala sekolah. Mata saya disuguhi pajangan sederet foto yang rapi menempel didindingnya. Itu adalah foto-foto para kepala sekolah yang masa jabatannya mendahului kepala sekolah yang saya temui ini.

Lalu saya katakan: “Jika Anda ingin membuat sejarah bagi sekolah ini, turunkan foto-foto itu, pajang di ruang guru dan perpustakaan. Gantilah dengan seberapapun banyaknya gambar yang menunjukkan keberhasilan Anda memimpin sekolah ini melampaui prestasi mereka itu …”

Dia menjawab, lho, itu akan sama artinya dengan saya tidak menghormati jasa-jasa mereka, tekanan pada nada bicaranya saya dengar agak keras. Baiklah, mari kita diskusikan apa yang saya maksudkan.

Sebagai kepala sekolah Anda tentu tahu, bahwa di sekolah yang besar, unggul, terkenal, selalu kita temui para professional kelas satu. Tapi ingat, kalau itu Anda sendiri, maka belum tentu semua guru/karyawan Anda juga seprofesional Anda.

Sedangkan kalau yang profesional itu adalah guru/karyawan Anda, maka tak usah khawatir, semua orang pasti juga akan mengatakan bahwa berkat keprofesionalan Andalah mereka menjadi kelas satu.

Para kepala sekolah yang menjabat mendahului Anda itu tentu saja telah mencetak sejarahnya sendiri . Jangan diingkari fakta ini. Maka bagi Anda adalah suatu hal yang bersifat wajib untuk mencetak sejarah yang lainnya lagi dari sekolah ini, sejarah yang Anda sendiri yang membuatnya.

Untuk itu, ketika seseorang memasuki ruang kerja Anda, harus diyakinkan bahwa andil Anda tidak kecil dalam membesarkan sekolah ini. Tentu saja, memamerkan piala atau piagam berjajar-jajar akan kalah menariknya dengan menatap gambar Anda atau siapapun warga sekolah yang sedang mendapatkan penghargaan karena prestasinya.

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under guru dan calon guru

Menyoal Rasa Keadilan Atasan Kepada Guru Swasta

Tapi akan beranikah guru swasta mempersoalkannya kepada para atasannya ihwal mengapa keterpurukannya bukan bagian dari keterpurukan atasannya juga? Kalau ada, guru swasta ini pasti sudah dapat menduga jawaban apa yang akan diberikan.

Mula-mula para atasan itu akan menampik pendapat, bahwa nasib guru swasta pasti tidak seburuk itu, buktinya mereka yang melamar ingin menjadi guru swasta selalu ada. Demikian pula jika yang dimaksudkan keterpurukan adalah akibat guru swasta menerima penghasilan yang belum memenuhi standar kebutuhan hidup minimum, sebab ada kucuran dana tunjangan profesi pendidik dan tunjangan fungsional. Bahkan kalau terkait dengan komitmen terhadap pengabdian sebagai pendidik profesional yang mesti dipertahankan dalam kondisi dan situasi apa pun, baik di ruang-ruang kelas maupun di tempat lainnya, maka tak pantas mempersoalkan keterpurukan itu.

Atasan guru swasta paling suka membuat pernyataan, bahwa sebuah pengabdian ikhlas tidak tamak terhadap rejeki yang berusaha keras dikais-kais dari mana pun sumbernya, apalagi di dalam dunia pendidikan, wah, keterlaluan. Inilah yang senantiasa menjadi tema nasihat favorit dijadikan materi pokok dalam pola pembinaan yang akan membuat guru swasta pasti merasa serba salah ketika ada yang berani menyanggah. Dan dengan kondisi guru swasta yang tidak berdaya inilah mengapa para atasan itu mengambil jarak. Artinya, atasan merasa tidak sepenuhnya perlu menjadi bagian dari penderitaan guru swasta.

Di sisi lain, kalau ada atasan yang tidak mempedulikan guru swasta sibuk mencari penghasilan di luar statusnya sebagai pendidik profesional, kebijakannya ini tidak pernah disalahkan. Walaupun aktivitas mencari penghasilan tambahan di luar profesi ini pasti berakibat buruk bagi guru swasta, jika sampai menghilangkan kesempatannya menyempurnakan pelaksanakan tugas-tugas mendidik secara profesional.

Mestinya, prestasi guru swasta yang berupa peningkatan kualitas sebagai pendidik profesional secara ideal harus terkait langsung dengan bertambahnya penghasilan, kenaikan jenjang jabatan, dan kepangkatan. Namun realita di lapangan, peningkatan kualitas dan perkembangan karir tersebut sering tidak relevan. Padahal ada beberapa asumsi yang dapat digunakan oleh para atasan untuk mempertimbangkannya. Asumsi-asumsi itu ialah: makin lama masa kerja yang dimiliki oleh seorang guru swasta, ia harus makin profesional. Sebab, ia yang lebih banyak menjalani pelatihan profesi. Tetapi, jika hal ini tidak menjadi kenyataan, berarti atasan telah menjalankan suatu proses manajemen yang tidak efektif.

Oleh karena itu, tidak adil jika hanya pengabdian satu-satunya komitmen yang harus dipegang teguh oleh guru swasta, meskipun dalam kondisi terpuruk, sedangkan atasan telah merasa menjadi bagian dari situasi itu dengan cukup membekali banyak nasihat ihwal keikhlasan. Tapi guru swasta pasti tahu, bahwa banyak pakar pendidikan yang memegang kuat pendapat tentang korelasi signifikan antara nasib guru swasta yang terabaikan dengan rendahnya kualitas mereka sebagai pendidik profesional.

 

Tinggalkan komentar

Filed under guru dan calon guru