Hari gini, kualitas pendidikan kita masih terpuruk dan penyebabnya konon guru si ujung tombak? Kalau jawabannya iya, maka ini artinya para pihak yang terkait sulit beranjak dari pendapat, bahwa penyebab kegagalan peningkatan mutu selalu para guru yang melaksanakan proses pembelajaran di ruang-ruang kelas. Nyaris tidak pernah diakui sebagai akibat kegagalan para kepala sekolah/madrasah.
Padahal para kepala sekolah/madrasah itu memiliki tanggungjawab membimbing, mengarahkan, dan memimpin para guru untuk bertindak, berpendapat, sehingga mencapai tujuan pendidikan. Tidak pernah ditarik kesimpulan tegas atau diungkapkan secara luas, bahwa kegagalan para bawahan adalah akibat dari kesalahan manajemen atasan.
Guru-guru efektif mestinya dihasilkan dari kepemimpinan efektif dari seorang kepala sekolah/madrasah. Dan sekolah/madrasah menjadi efektif ketika memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan school based management. Esensi manajemen bercirikan kemandirian dan pengambilan keputusan partisipatif untuk mencapai sasaran mutu. Ini harus berlaku sampai kapanpun bagi sekolah/madrasah itu, walau sekarang menyandang status entah SSN, entah RSBI.
Seorang pelatih sebuah tim diangkat dengan tujuan memenangkan kejuaraan. Kalau timnya kalah, maka bukan tim itu dibubarkan dan para pemainnya diberhentikan, tetapi pelatihnya yang dipecat. Belajar dari fenomena ini, maka ketika kegagalan menimpa dunia pendidikan, justru atasan para gurulah yang harus dipertimbangkan kembali kedudukannya. Bukan malah nasib para guru yang dipermainkan dengan ancaman membubarkan tim dan merekrut guru baru. Tapi justru kebijakan yang seperti ini yang terjadi, yang disenangi yayasan.
DIarsipkan di bawah: CPNS, GURU, INFO, PENDIDIKAN, SERTIFIKASI, artikel, bhp, calon guru, catatanku, guru dan calon guru, guru swasta, hari guru, informasi, kebijakan pemerintah, kepala sekolah/madrasah, kurikulum, kurikulum dan pendidikan, leadership kasek, motivasi, opini, pembelajaran, ponorogo, produk hukum, yayasan | Ditandai: artikel, bintek, catatanku, gaya kepemimpinan, GURU, guru swasta, kebijakan pemerintah, kepala sekolah, kepala sekolah/madrasah, KTSP, kurikulum, leadership kasek, motivasi, opini, pembelajaran, PENDIDIKAN, peraturan pemerintah, ponorogo, sekolah, sekolah swasta, SERTIFIKASI, SYARAT-SYARAT, workshop, yayasan
ya..ya.. betul pak-e.
sangat terasa di sekitar kita kecuali bau anyir itu sudah tercium di luar halaman sekolah, barulah pemegang saham menyemprotnya.
salam
Tulisan yang sangat menarik, kritis serta membangun…. trim’s
begitu juga saya berterimakasih atas kesediaan Anda berkunjunga ke sini
Nah…saya setuju dengan ini.Jangan sampai jabatan Kepala Sekolah itu jadi jabatan seumur hidup,kan tidak sehat ya mas?
Good luck guru !
begitulah jabatan, jangan dilanggengkan
tapi pengabdiannya jangan pernah berhenti
kata orang sono old soldier never die
Betul sekali pak… itulah fenomena yang terjadi di lapangan… Ketika tejadi kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan banyak pihak termasuk KS justru menyalahkan guru-gurunya, kurang ini kurang itu… Sementara kalau berhasil, justru menyatakan …”berkat kepemimpinan saya”, dll.