Guru dan Calon Guru vs Berubah karena Komitmen Dulu atau Komitmen Membuat Perubahan

Bagi kemajuan sekolah, manakah yang lebih penting: Komitmen guru-guru setelah mengalami perubahan, atau komitmen merekalah yang justru mendorong terjadinya perubahan?

Ke arah mana pun perubahan itu menuju, bisa berhasil mencapai target kalau semua guru komit. Sebab, komitmen guru pasti akan mendorong rasa percaya diri dan semangat kerja mereka. Komitmen guru akan melancarkan pergerakan sekolah menuju perubahan yang harus merupakan peningkatan baik bersifat fisik maupun psikologis, sehingga menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah.

 Dari mana pun memulainya, pimpinan sekolah mesti lebih dulu berfokus pada guru yang menjalankan perubahan, bukan pada fasilitas yang diperoleh atau problematika yang  dihadapi dengan adanya perubahan itu. Ia tidak perlu cepat-cepat masuk pada konsep-konsep perubahan sebelum memberi perhatian pada cara guru-guru berpikir. Sebab, konsep-konsep yang hebat itu implementasinya akan terpulang pada bagaimana para guru menjalankannya.

 Komitmen guru harus dibangkitkan oleh pimpinan sekolah yang bisa menyampaikan perubahan-perubahan yang bakal terjadi agar lebih mudah diterima. Untuk itu, diperlukan  sesuatu yang konkret seperti pendekatan visual, diagram, story telling, dan sebagainya.

Seringkali apa yang dipikirkan oleh pimpinan sekolah adalah apa yang cocok ia jalankan dan bisa ia kuasai, padahal belum tentu semua guru mampu. Oleh karena itu, ungkapan klise yang berbunyi: Bagi guru yang terlambat atau bahkan tidak mau ditarik gerbong perubahan, maka ditinggalkan, adalah suatu kebijakan pimpinan sekolah yang pasti dirasakan menyakitkan.

Sumber: Rhenald Kasali, Change!

4 Tanggapan

  1. ini hanya sebuah penafsiran, jadi boleh jadi kedua-duanya benar….

  2. Bagi guru perubahan adalah keniscayaan, tetapi kecepatan guru berubah tentu berbeda-beda, banyak hal yang mempengaruhi, bahkan mungkin ada guru yang lambat dalam berubah mengikuti perkembangan, ada yang super lambat, dan ada yang “manteb dengan dirinya” dan tidak mau berubah.
    Perlunya pengertian dan ruang kreasi yang lebih luas agar setiap kecepatan perubahan dapat terakomodir

  3. benar, kapasitas guru sangat heterogen buat melakukan perubahan
    tetapi, kalau bicara target, maka mesti ada yang lewat, kan? terimakasih, Guss

Tinggalkan Balasan